Sunday, August 12, 2018

August 12, 2018
Kumpulan Cerita Sex 2018 - Tok…. Tok….tok…tok…tok.. “ terdengar suara kentongan bakso yang dipukul dengan nada khas. Panjang sekali, pendek tiga kali dan diakhiri ketukan panjang satu kali. Semua orang di desa itu sudah hafal bunyi kentongan bakso seperti itu.
“Sekar.. itu.. Bang Pajang sudah datang, katanya mau beli bakso..” kata seorang wanita muda pada temannya yang juga masih muda. Gadis yang disapa “Sekar’ tadi melongokkan kepalanya , nama lengkapnya Nurfitriana. Sering disapa dengan sebutan Sekar.
Usianya baru menginjak 20 tahun. Wajahnya cantik sekali dengan kulit putih bersih, wajahnya bulat dengan hidung mancung bermata hitam bening berkilat-kilat. Orang akan menyangka Sekar adalah seorang bintang sinetron kalau belum tahu. Rambutnya hitam legam sepunggung, dibiarkannya selalu tergerai, senantiasa melompat ke kiri dan ke kanan jika Sekar berjalan.
Tidak heran kalau Sekar berada di dekat temannya, dia akan menjadi sangat menonjol, apalagi dengan temannya yang sekarang bersamanya, sangat jauh bedanya. Yang satu putih, yang satu agak hitam, yang satu cantik, yang satu tidak menarik.
Untungnya Sekar bukan tipe gadis yang sombong dan pilih-pilih teman, mungkin itu yang membuatnya disukai di antara teman-temannya. “Mana sih?” Sekar melongok ke arah suara kentongan. Dia berlari kecil ke luar pagar Asramanya.
Sekar memang tinggal di Asrama. Sekolahnya mengharuskan itu. Kebetulan Sekar sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan di Tasikmalaya.
Orang paling senang melihat Sekar memakai seragam perawatnya yang serba putih, itu membuat tubuhnya jadi terlihat makin putih. “Itu, di ujung jalan,” temannya yang menyusul di belakang menjawab sambil menunjuk.
Sebuah gerobak bakso kecil berwarna biru kusam berjalan mendekat dari arah ujung jalan dan makin-lama makin mendekat.
Tukang baksonya bernama Pajang, orangnya sudah berumur sekitar 40 sampai 50 an, rambutnya sudah memutih sebagian, sementara kumis dan janggutnya yang juga memutih terlihat tidak terawat, kalau saja dia tidak berdagang bakso, orang mungkin akan mengira dia orang gila kerena suka tersenyum-senyum sendiri.
“Eh, Non Sekar,” Pajang mengembangkan senyumnya saat bertemu dengan Sekar, sebaris gigi kuning kehitaman terlihat berbaris di balik bibirnya yang tebal, wajahnya yang kotor tidak terawat berusaha tersenyum, tapi yang ada justru sebuah seringai mengerikan. “Eh.. iya Bang..” Sekar berusaha ramah dan membalas senyum Pajang. “Yang biasa Non?” tanya Pajang dengan nada aneh, seperti ramah yang dipaksakan. Dengan gerakan terburu-buru Pajang menyiapkan Bakso yang dipesan. “Kok nggak kuliah Non?” tanya Pajang di tengah kesibukannya.
“Memang lagi libur ya?” “Eh..” Sekar terkaget sesaat. Dalam pikirannya dari mana Pajang tahu kesibukannya. “Iya Bang, lagi libur. Besok baru masuk lagi.” “Biasanya Non kalau libur kan jalan-jalan, sama siapa.. yang sering ke sini pakai motor RX King itu..?” Pajang bertanya lagi.
Sekar teringat ke Ivan, pemuda yang sering mengunjunginya, meskipun bukan pacarnya, tapi Sekar memang suka pada Ivan. “Memangnya Abang kenal dia?” tanya Sekar sambil tersenyum.
“Ya.. dia kan juga sering beli bakso saya Non..” Pajang menjawab canggung. Kemudian menyerahkan semanguk bakso yang mengepulkan uap panas ke tangan Sekar, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tangan Sekar yang halus.
Sesaat entah kenapa badan Pajang meremang, dia belum pernah merasakan kelembutan tangan gadis secantik Sekar.
Kaget kerana ada yang meraba tangannya, secara refleks Sekar menarik tangannya membuat pegangannya pada mangkuk bakso goyah, sebagian kuah bakso yang panas tumpah menyiram tangan Pajang, membuatnya meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Aduh, maaf Bang, sa.. saya tidak sengaja..”
Sekar gugup setengah mati, kekagetannya saat tangannya diraba oleh Pajang sekarang berubah menjadi kepanikan kecil. Dengan spontan karena naluri sebagai perawat, Sekar langsung menyerahkan mangkuk baksonya pada temannya, dia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, dengan cekatan Sekar mengelap tangan Pajang yang tersiram kuah panas. “Nggak apa-apa..” kata Sekar, rasa paniknya berkurang dengan sendirinya melihat tangan Pajang tidak terluka atau melepuh.
Semula Sekar takut Pajang akan marah, tapi ternyata tidak, Pajang hanya diam saja, bahkan tidak berkata apa-apa sampai Sekar selesai makan bakso. Bagi Sekar, kejadian itu dengan mudah bisa dilupakannya, tapi tidak bagi Pajang. Kejadian itu sangat membekas di hatinya.
Selama berhari-hari wajah Sekar selalu berada di dalam pikiran Pajang, seolah menari-nari di depan matanya. Dan perlahan-lahan segala pikiran itu berkembang menjadi sebuah perasaan aneh dalam diri Pajang.
Perasaan yang menyimpang yang membuatnya ingin memiliki Sekar. Dan perasaan itu berkembang bagaikan makhluk buas yang mencabik-cabik dirinya dari dalam, membuatnya lupa pada keadaan dirinya, membuatnya lupa pada istri dan empat anaknya yang ditinggal di kota asalnya. Dan bila sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya pada Sekar, dia melampiaskannya dengan beronani sambil membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Sekar.
Tapi Pajang selalu bersikap biasa jika bertemu dengan Sekar, dan Sekarpun selalu bersikap ramah padanya. Hal ini yang membuat keinginan Pajang untuk memiliki Sekar makin kuat.
Pajang sudah salah mengartikan keramahan dan kebaikan Sekar. Keinginan menyimpang dari dalam diri Pajang itu membuatnya malu setiap kali bertemu Sekar, bagaimanapun dia sadar dirinya terlalu jauh jika dibandingkan dengan Sekar.
Sekar seorang gadis yang sangat cantik dan masih sangat belia, sementara dirinya sudah tua dan berwajah jelek. Tapi keinginan itu sangat kuat menyerang dirinya, cukup kuat untuk mendesaknya melakukan perbuatan terkutuk, dia berusaha mengguna-gunai Sekar.
Dan didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu itulah maka Pajang memberanikan diri pergi menemui dukun yang selama ini dia percayai. Pajang memang sering berkunjung ke dukun itu, terutama jika berhubungan dengan penglarisan dagangan baksonya.
Rumah dukun itu terpencil di pinggiran kota, dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Butuh waktu satu jam jalan kaki jika ingin bertemu dukun itu karena rumahnya tidak bisa dijangkau oleh kendaraan.
Rumah itu sendiri tidak seberapa besar, bahkan bisa dibilang kecil. Sebuah rumah kayu berkesan kumuh dan hampir rusak. Kayu-kayunya sudah usang dan dimakan rayap, semantara sebagian gentingnya juga sudah pecah, ditambal oleh potongan asbes gelombang.
Begitu masuk ke rumah itu, perasaan yang muncul adalah keseraman yang luar biasa. Dinding rumah yang tidak seberapa itu dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak binatang, bahkan Pajang melihat ada beberapa tengkorak manusia terselip di sela-selanya.
Keseraman makin terasa saat masuk ke ruangan dukun yang didominasi warna hitam. Ruangan tanpa jendela itu dipenuhi asap kemenyan yang membuat siapapun yang masih waras akan mabuk mencium baunya.
Pajang melihat dukun itu duduk menghadapi sebuah meja pendek yang dipenuhi oleh sesaji, dupa dan benda-benda logam yang kemungkinan adalah jimat sementara di dinding sebelah kanan dan kirinya terdapat rak-rak kayu berisi puluhan kuali dan botol botol porselen yang ditutup kain berwarna merah. “Kembali lagi rupanya,” dukun itu berujar dengan suara berat.
Dia memakai semacam jubah berwarna hitam yang terkesan kedodoran. Rambutnya gondrong menjela-jela di antara bahunya. Kumis dan jenggotnya yang sebagian sudah memutih dibiarkan memanjang dan tidak terawat. Matanya nanar menatap Pajang yang berlutut ketakutan, bagian bawah matanya yang mengantung dan keriput berkedut-kedut saat menatap Pajang. Wajahnya yang tua terkesan seram ditimpa nyala lampu minyak di dekatnya, satu-satunya penerangan yang ada di situ.
“I.. iya.. Mbah..” Pajang menjawab gemetar, badannya seolah menciut seukuran botol saat mata si dukun menatapnya dengan tajam. “Ini bukan urusan jualanmu kan?” si dukun menebak jitu, membuat Pajang mengangguk penuh takzim,mengagumi kehebatannya. “Urusan apa? Apa kamu tidak malu datang ke sini lagi? Yang dulu saja kamu belum bisa membayar, kan?” si dukun bertanya ketus.
Pajang merasa mengerut lagi. Urusan penglarisannya yang dulu memang belum dia bayar karena tidak mampu, tapi kali ini Pajang sudah merencanakan sesuatu. “Saya pasti akan bayar Mbah..” Pajang terbata-bata.
“Tapi saya tidak membayar dengan uang.” “Lalu dengan apa?” suara si dukun menggedor jantung Pajang, membuatnya pucat ketakutan. Pajang merogoh saku bajunya dengan gemetar dan menyerahkan sesuatu pada si dukun. Si dukun menerima pemberian Pajang lalu diamatinya sebentar.
“Kamu mau membayarku dengan dia?” tanya si dukun, tapi kali ini suaranya melunak. Dikembalikannya pemberian Pajang, Pajang mengamatinya sejenak. Ternyata itu adalah foto Sekar yang sedang tersenyum manis sekali. Foto itu dicurinya dari dompet Sekar saat tertinggal di gerobaknya. “Jadi kamu mau mengguna-gunai dia ..?” si dukun menebak lagi.
Pajang mengangguk, sekali lagi dengan penuh ketakziman. Si dukun kemudian menanyakan tanggal dan hari kelahiran Sekar, Pajang langsung menyebutnya dengan lancar karena Pajang juga pernah melihat KTP Sekar.
Si dukun mengangguk-angguk sesaat, lalu dia mulai merapal mantra-mantra sambil menghitung-hitung sesuatu dengan jari-jari tangannya. “Sulit Pajang..” si dukun berujar setelah diam beberapa lama.

Ajang terlihat kecewa. “Tapi jika kamu berhasil, maka dia akan menjadi milikmu selamanya.” Si dukun melanjutkan, membuat Pajang kembali lega. “Tapi syaratnya sangat sulit.” “Saya akan kerjakan Mbah, sesulit apapun akan saya kerjakan.” Pajang berujar mantap.
“Syaratnya, pertama kamu harus puasa mutih tujuh hari tujuh malam tanpa putus dimulai pada hari dan weton kelahirannya, lalu kamu berikan ini padanya.” Si dukun cabul itu memberi Pajang semacam cairan yang dikemas dalam botol kecil berwarna hijau. “U.. untuk apa Mbah..?” Pajang merasa bingung.
“Itu ramuan pemikat, tolol,” si dukun membentak. “Kamu pikir cukup hanya mantra dan jampi-jampi saja? Pastikan dia meminum cairan itu dan bukan orang lain, kalau tidak, risikonya kamu tanggung sendiri.” Pajang mengangguk mengerti. Hatinya terasa lebih riang sehingga seolah dia bisa mengambang satu setengah meter di udara saat berjalan pulang.
Otaknya segera penuh dengan rencana. Dan pada satu kesempatan, ketika Sekar membeli bakso darinya Pajang dengan gesit memasukkan cairan ramuan pemikat dari dukun ke dalam mangkuk bakso Sekar, dan dengan harap-harap cemas Pajang melihat bagaimana Sekar dengan lahap menghabiskan baksonya. Pajangpun melakukan ritual yang diperintahkan si dukun.
Dan tepat pada malam yang ditentukan, Pajang mulai melancarkan mantra pengasihan yang didapatnya. Sambil membakar kemenyan, Pajang mulai membayangkan wajah Sekar. Dengan mulut berkomat-kamit dia memanggil nama Sekar sambil terus melancarkan mantra pengasihannya.
Di tempat lain, Sekar yang sedang tidur mendadak menjadi gelisah, hawa di sekitarnya seolah bertambah panas mambuat sekujur badannya berkeringat.
Nafasnya perlahan-lahan memburu dan terengah-engah. Di dalam tubuhnya seolah meledak sebuah dorongan aneh yang membuat nafsu birahinya meledak, seperti ada binatang buas yang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam.
Dalam tidurnya, Sekar bermimpi seolah dirinya sedang bercumbu dengan Pajang. Sekar tidak tahan melawan dorongan birahi gaib itu, dia akhirnya melepas semua pakaiannya sehingga dia terbaring telanjang bulat di ranjang.
Sekar lalu mulai meremas-remas payudaranya sedniri dengan ganas sambil merintih-rintih penuh kenikmatan sambil sesekali memencet puting susunya sendiri, tangannya kemudian beralih ke selangkangannya dan mengelus-elus gundukan vaginanya sambil sesekali jari-jarinya mengaduk-aduk liang vaginanya.
Persetubuhan gaib antara Sekar dan Pajang berakhir setelah Sekar mengalami orgasme, Sekar mengejang sambil merintih penuh kenikmatan, dari vaginanya mengucur cairan kewanitaan sampai akhirnya tubuhnya kembali melemas dan terbaring terengah-engah di ranjang bersimbah keringat.
Di tempat lain Pajangpun merasakan kenikmatan yang sama dan akhirnya berejakulasi dengan menyemprotkan spermanya.
Sejak malam itu, perhatian Sekar terhadap Pajang berubah sama sekali. Sekar mulai terang-terangan memperlihatkan kesukaannya pada Pajang, Sekar bahkan berani menanyakan rumah Pajang dan berjanji akan mengunjunginya.
Beberapa malam terakhir Sekar selalu memimpikan hal yang sama yaitu melakukan persetubuhan dengan Pajang. Hal itu yang kemudian membuat Sekar terus-menerus terbayang-bayangi oleh Pajang.
Di mata Sekar sekarang Pajang bukan lagi pria tua buruk rupa tapi sudah menjelma bak pangeran dalam dongeng. Di mata Sekar sekarang Pajang adalah seorang pemuda gagah dan tampan yang senantiasa menggoda matanya, pengaruh mantra pengasihan yang diberikan si dukun benar-benar merasuki jiwa Sekar.
Sementara Pajang sendiri tiap malam selalu melancarkan mantra pengasihannya pada Sekar untuk melakukan persetubuhan gaibnya dengan Sekar, Pajangpun selalu menunggu kapan dirinya bisa benar-benar menikmati tubuh Sekar. Dan akhirnya saat itupun datang juga.
Sore itu, malam Minggu tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kontrakan Pajang. Dengan tergesa-gesa Pajang membuka pintunya. Betapa kaget dan gembiranya dia ketika melihat bidadari yang selama ini diimpikannya sekarang berdiri di depan pintu rumahnya. “Eh.. Dik Sekar..”
Pajang tersenyum antara gembira dan bingung. Dengan canggung Pajang mempersilakan Sekar masuk. Sekar dengan gerakan canggung mengikuti saja ajakan Pajang. Pajang merasa mendapat kesempatan dan hal ini tidak disia-siakannya.
Setelah ganti baju, Pajang mengajaknya ngobrol tentang segala hal yang isa diobrolkan. “Dik Sekar cantik banget ya hari ini” kata Pajang memuji. “Ah, Bang Pajang bisa aja,” kata Sekar sambil tersipu malu. “Eh beneran lho… kamu cantik banget.. kamu mau nggak jadi pacar Abang,” ujar Pajang dengan lugu dan spontan.
Semula Sekar hanya diam mendengar pertanyaan itu, saat itu Pajang mulai melancarkan mantra pengasihannya pada Sekar, dan Sekar akhirnya mengangguk. Melihat hal itu, Pajang bagai mendapat durian runtuh, seketika dia langsung memegang tangan Sekar, Sekar tidak menunjukkan perlawanan apa-apa karena sudah terpengaruh oleh mantra pengasihan Pajang.
Lalu karena mendapat angin, Pajang mulai berani mencium bibir Sekar yang merah merekah itu. Dengan gerakna kasar dan rakus, Pajang melumat bibir Sekar penuh nafsu. Perlahan lidah Pajang mulai bergeliat di dalam mulut Sekar.
Awalnya Sekar tidak merespon, tapi akhirnya lidahnya pun akhirnya membalas serangan-serangan lidah Pajang di dalam mulutnya secara serasi.
Koleksi Cerita Porno Pilihan | Pajang melumat bibir Sekar yang tipis dan merah itu kira-kira hampir 5 menit dengan penuh gairah. Baru pertama kali inilah Pajang merasakan kenikmatan ciuman wanita yang menggairahkan yang tidak pernah didapatnya dari istrinya.
“Dik…, kita pindah aja yuk! jangan disini, nggak leluasa,” kata Pajang seakan-akan dia ingin mengajak Sekar melakukan hal lain selain berciuman. “Pindah kemana?” kata Sekar. Kita ke dalam aja,” jawab Pajang sambil menggandeng tangan Sekar. Dia kemudian mengunci pintu kontrakannya dan menggandeng Sekar masuk ke sebelah dalam.
Di situ terdapat ranjang rendah berlapis kasur busa usang dengan kain seprai yang sama usangnya. Pikiran Pajang mulai tidak karuan bercampur nafsu ketika melihat Sekar tidak bereaksi apa-apa saat diajak ke dalam kamarnya.
Sesampainya kami di kamar, adegan kami berciuman kembali terulang, tak hanya itu, sewaktu mereka berciuman kedua tangan Pajangpun beraksi terhadap tubuh Sekar, awalnya Pajang hanya meraba tubuhnya, tapi akhirnya Pajang mulai meremas-remas payudara Sekar yang masih terbalut pakaian. “..Ohh.. Sekar sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita secantik dirimu..” Pajang mulai meracau di tengah gejolak seksualnya yang kian menggebu.
“seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu… akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan..” Sekar yang sudah dirasuki matra pengasihan hanya bisa mengangguk pasrah, apalagi Pajang juga dengan buas terus-menerus menciumi dan mencumbui Sekar membuat dorongan birahi dalam diri Sekar ikut meledak, nafsu birahinya semakin menjadi jadi.
Vaginanya berdenyut-denyut menahan dorongan seksualnya yang menggebu. Satu-satunya keinginannya sekarang adalah bagaimana bisa memuaskan hasrat seksualnya. Tanpa sadar Sekar mulai melepaskan bajunya satu-persatu bahkan sekaligus melepaskan BH dan celana dalamnya tanpa diminta.
Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Sekar menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair.
Pajang meneguk ludah mengagumi keindahan dan kemulusan tubuh Sekar yang begitu putih bak pualam. Tanpa pikir panjang lagi Pajang juga membuka pakaiannya sampai bugil.
Perlahan Pajang mulai meremas kedua belah payudara Sekar yang terasa begitu lembut di tangannya. Sekar mengejang pelan saat payudaranya disentuh pria untuk pertama kali. Nafsu seksualnya langsung meledak dahsyat.
Pajang memicingkan sebelah matanya benar benar tak percaya apa yang dilihatnya, lekuk lekuk tubuh Sekar yang begitu sempurna telanjang bulat bulat terpampang dihadapannya lalu dengan kata kata bergetar ia meneruskan celotehannya “..Ohh akhirnya kau datang Sayangku.. pahamu sungguh mulus..” Pajang menaruh kedua tangannya di paha Sekar sambil mengelusnya.
Sekar bergetar hebat, sentuhan tangannya kembali menggetarkan birahinya. Sekar terangsang begitu hebat oleh sentuhan tangan Pajang yang mengelus ngelus pangkal pahanya menyentuh pinggiran vaginanya, “.. sshh.. mmhh.. oogghhss..!! Bagaikan diguyur air hangat Sekar mendesah panjang, tubuhnya terasa dialiri jutaan volt, kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat.
Lalu perlahan Pajang mulai menelentangkan tubuh mulus Sekar di atas rangang dan mengatur posisi kaki Sekar mengangkang begitu rupa sehingga vaginanya terkuak. Pajang lalu mendekatkan penisnya ke bibir vagina Sekar lalu mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lubang vagina itu.
Tampak kepala penis Pajang masih agak sulit masuk kedalam lubang vagina Sekar yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sekalipun. Perlahan-lahan Pajang mulai menekan batang penisnya sehingga sedikit demi sedikit berhasil menyusup ke dalam vagina Sekar yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.
“.. Aaakkhh.. sshh..! sempit sekalii..!!” Pajang menggumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya. “..Oohh Sekar sempit sekali vaginamu..” Pajang sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan, kepala penisnya yang sudah terjepit diantara bibir vaginanya ditambah tubuh Sekar yang begitu menggiurkan mana mungkin ia bisa mempertahankannya.
Lalu Pajang membuka matanya sambil memandang mata Sekar dengan penuh pengharapan. Sekar kaget bukan kepalang tubuhnya terasa lemas, rasa malu menyelubungi seluruh pikirannya tidak satupun kata yang bisa meluncur dari mulutnya.
Melihat keadaan tidak begitu menunjang Pajang langsung mengambil inisiatif. Pajang langsung mencium bibir Sekar dengan mesra dan tanpa menunggu perintah lagi Pajang mulai menggerakkan pinggulnya meneruskan aktivitasnya yang tadi sempat berhenti.
Pajang tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Sekar agak tersentak dan mengerang ketika batang penisnya menyeruak masuk lebih dalam vaginanya. Mata Sekar terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat.
Tak menyangka sedikitpun begitu besar batang kemaluan Pajang menerobos liang vaginanya yang belum siap menerima ukuran sedemikian besar. Tampak bibir vaginanya sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluannya. “.. Ooukkhhss.. sshh.. sakiit Bang ..! Pelaann.. pelaann.. Bang..!” Sekar menangis antara nikmat dan perih di vaginanya. “…..
Ooukkhhss.. sshh.. sakiit Bang ..! Pelaann.. pelaann.. Bang..!” Sekar menangis antara nikmat dan perih di vaginanya.
“.. hhmm.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. ukkhh.. uukkhh..” Pajang mulai mengeluarkan kata kata vulgar dan terlihat Sekar agak canggung mendengarnya.
Gejolak birahi Pajang begitu menguasai tubuhnya tanpa canggung lagi mulailah ia menaik turunkan pantatnya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepada Sekar untuk pemuasan birahinya, batang penis Pajang masuk menyusup lubang vaginanya tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya.
“..aarrgghh..!!” Sekar melenguh panjang, wajahnya merah merona matanya memandang Pajang dengan pandangan sayu penuh arti seperti menahan sesuatu, mungkin menahan rasa sakit atau juga mungkin menahan rasa nikmat yang luar biasa.
Pajang betul betul terpana melihat wajah Sekar yang semakin cantik diliputi ekspresi sensasional itu. Perlahan lahan Pajang mulai aktif bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, dinding vagina Sekar yang sudah dilumuri cairan vaginanya mulai terasa licin.
Wajah Sekar semakin lepas mengekspresikan rasa sensasinya yang luar biasa yang ia tidak pernah perkirakan sebegitu nikmatnya bercinta dengan Pajang, Tanpa Sekar sadari ia mulai berceloteh diluar kontrol.
“..Ohhss.. sshh.. enaak.. seekalii….!! oougghh..Teruss .. .. teerruuss..!!! Sekar mendesah, merintih dan mengerang sepuas puasnya. Sekar sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah orang yang tidak sepantasnya menggaulinya, yang ada dibenak Sekar hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.
Mereka dengan antusiasnya saling berpelukan sambil berciuman. Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan.
Pajang mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Sekar yang semakin terbuka lebar, Sekar pun mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil ditekuknya sampai ke kepalanya, pantatnya ikut diangkat memudahkan batang kemaluan Pajang seluruhnya masuk dan menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya, bagi Pajangpun semakin mudah menyodokkan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai kepangkal penisnya sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantatnya.
Pajang memperhatikan kearah selangkangan Sekar vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina Sekar, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu kemaluannya itu dan juga batang kemaluannya.
Pajang mendengus-dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja.
Mata Pajang terlihat lapar menatap payudara Sekar yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Pajang langsung menyedot puting susu Sekar yang begitu menantang, Tubuh Sekar yang menyender dinding setengah duduk setengah terlentang menggelinjang hebat.
Payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya. Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Pajang yang basah dan kasar menggesek putingnya yang terasa sangat peka itu.
Pajang begitu bergairah menjilati dan menghisap buah dada dan putingnya di sela-sela desah dan rintihan Sekar yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini,
“..oouugghhss ..oouugghhss.. sshh..” Sekar makin meracau tidak karuan, pikiran Sekar sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan Pajang, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali. Sekar merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhnya mulai dari ujung kakinya sampai keubun ubunnya. Tubuh Sekar akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Pajang erat sekali.
Jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme. Pajang terus menggenjot tubuh Sekar yang hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya.
Lebih dari sejam Pajang menyetubuhi Sekar tanpa henti, Sekar makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan seks yang ia belum pernah rasakan.
Tubuh Sekar akhirnya melemas lagi dan Pajang yang sudah tidak tahan akhirnya menyemburkan spermanya di dalam rahim Sekar.
Untuk beberapa saat Pajang membiarkan penisnya masih menancap di dalam vagina Sekar mencoba meresapi setiap kenikmatan tubuh putih mulus itu. Ditatapnya wajah Sekar yang sekarang terlihat sendu, ada sebutir air mata mengalir di pipinya. Pajang membiarkan tubuh Sekar yang berada dalam pelukannya untuk beristirahat sejenak.
Dilihatnya ada bercak darah bercampur lendir putih di seprainya, Sekar memang benar-benar masih perawan. Hal itu membuat Pajang makn merasa senang karena berhasil memerawani seorang gadis secantik Sekar.
Setelah beristirahat sejenak, Pajang meminta Sekar berbalik sambil menungging, lalu dengan posisi doggy style Pajang kembali membenamkan penisnya ke dalam kemaluan Sekar, kali ini kemaluan Sekar bisa menerima setiap sodokan penis Pajang yang berukuran besar itu.
Sekar merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap detail denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Pajang yang merasuk ke liang kenikmatannya, secara refleks Sekar meningkatkan sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy itu bahkan ketika Pajang menyodok penisnya yang besar itu, Sekar menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Pajang yang besar dan panjang itu masuk ke dalam vaginanya dalam sekali mengaduk-aduk seluruh rongga kenikmatannya.
Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotis. Seorang wanita yang sangat cantik dan bertubuh mulus dan begitu sexy disetubuhi oleh seorang pria setengahj baya yang berkulit hitam dan buruk rupa.
Tubuh Sekar yang mulus ramping menungging meliuk liuk, bongkahan pantatnya yang sekal dan mulus bergerak gerak dengan liarnya, kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan, sementara buah dadanya yang montok bergoyang erotis sekali ditambah dengan erangan dan desahannya mendayu dayu memenuhi ruangan kamar, Sekar sudah berubah menjadi kuda betina liar dimana Pajang memegang kendali permainan sex ini sepenuhnya.
‘Pertempuran’ seks berlanjut terus, Pajang menahan erat pinggang Sekar yang ramping supaya tubuh Sekar tidak terjerembab ke depan karena vaginanya digenjot cepat sekali sampai batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, semakin deras liang vaginanya digenjot keperkasaan penisnya semakin keras erangan Sekar mengumandang dikamar yang dipenuhi hawa napsu birahi kedua insan ini.
Tubuh Sekar sampai bergetar hebat, terlihat ia mengejang kuat-kuat pertanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat. Sekar benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan pedagang bakso ini.
Pajang sangat puas melihat kepasrahan Sekar, lalu ia merunduk memeluk tubuh Sekar dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Sekar, jari jari Pajang memainkan klitoris Sekar dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan penisnya yang besar itu.
Sekar mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi menungging meliuk meliuk tanpa terkendali, rupanya klitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Sekar, lubang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar-putar oleh jari Pajang, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Sekar mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut, mulutnya seperti ingin teriak dan mendesah desah tak henti hentinya.
Rupanya Sekar sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat luar biasaa. posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihujam oleh keperkasaannya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Sekar untuk mendapatkan multiple orgasme.
AAAAAAHHHHKKKHHHH ….!!” Sekar mengerang histeris diterjang klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih dahsyat dari yang pertama, mukanya merah merona terbakar oleh puncak birahinya wajahnya semakin cantik diliputi ekspresi kenikmatannya tubuhnya mengejang cukup lama selama orgasmenya berlangsung.
Sekar benar benar takluk mendapatkan kepuasan yang luar biasa, rasa ketagihan merasuk jiwanya, ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama-lamanya dengan Pajang karena ia bisa memberikan multiple orgasme yang ia tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tubuh Sekar sudah tidak bertenaga lagi akhirnya ambruk ditempat tidur berbaring napasnya tersengal sengal, Pajang ikut membaringkan dirinya disamping Sekar.
Seharian Pajang mengajari Sekar bagaimana caranya bercinta untuk menggapai kenikmatan. Satu hari penuh Sekar mendapatkan pengalaman luar biasa. Pajang merangsang nafsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi, posisi 69 pun tak lupa dipraktekkan dan Sekar menjadi murid yang cepat tanggap.
Tidak bisa dihitung berapa kali Sekar mengalami orgasme, yang jelas Sekar begitu menikmati bahkan mungkin begitu ketagihan disetubuhi batang kemaluan yang begitu besar dan perkasa. Dan Pajangpun begitu puas bisa merealisasikan keinginannya menggauli Sekar yang sangat menggairahkannya. Pajang mengalami ejakulasi dengan penuh kenikmatan.
Setelah kejadian hari itu, Pajang selalu berusaha untuk bisa bertindak wajar seolah olah tidak terjadi sesuatu diantara mereka bahkan Pajang tidak terlalu memaksakan keinginannya untuk berhubungan seks kalau situasi tidak memungkinkan.
Tetapi lain halnya dengan Sekar, terlihat ia begitu grogi setiap bertemu dengan Pajang terutama jika teman-temannya berada disampingnya, sulit sekali ia menutupi kegelisahannya.
Sebagai seorang wanita perasaannya lebih banyak dikendalikan oleh emosinya. Setiapkali menatap Pajang walaupun Pajang berpakaian lengkap tetapi yang terbayang adalah tubuh kekarnya yang bertelanjang bulat dengan batang kemaluannya yang menantang.
Sejak hari itu Sekar tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk tidak memadu kasih dengan Pajang. Da ketika libur, ia mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk pergi ke tempat Pajang tanpa diketahui oleh teman-temannya.
Pajang yang memang sengaja memanggil Sekar dengan mantra pengasihannya langsung menyambut memenuhi keinginan Sekar untuk bercinta. Saling lumat dan saling cumbu. Tangan Pajang meraba dan mengelus daerah sensitif Sekar, hingga pada puncaknya mereka saling jilat dengan posisi 69. Kepala Pajang membenam di selangkangan Sekar, menjilati dan menciumi vagina dan klitoris Sekar.
Semantara Sekar juga sibuk mengocok batang kemaluan Pajang sambil mulutnya mengulum kepala batang kemaluannya, awalnya Sekar agak canggung dengan gaya permainan itu tapi Pajang yang berpengalaman membimbing Sekar untuk melakukannya.
Sekar mulai terbiasa menerima penis Pajang di mulutnya, perlahan dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan. Lalu Sekar memajukan wajahnya, sambil melanjutkan kocokannya dia menyapukan lidahnya pada kepala penis itu.
Pajang mendesah merasakan belaian lidah Sekar pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya. Sekar sendiri walaupun merasa tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
Sekar merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Pajang yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Pajang menekan kepalanya sambil melenguh panjang.
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tidak mau, Sekar harus menelannya, rasanya yang asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Sekar langsung terbatuk-batuk begitu Pajang mencabut penis itu dari mulutnya.
Memang Pajang adalah guru yang baik, akhirnya Sekarpun terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral seks sampai Pajang orgasme, dan spermanya menyembur keluar di wajah Sekar yang cantik. Sekar lalu merebahkan badannya dan terlentang. Pajang sambil mendekati Sekar, dia lalu berbaring di dekat Sekar.
Pajang mulai membelai wajahnya dan menciumi pipinya, kumisnya yang kasar seperti duri menusuk-nusuk pipi Sekar yang halus. Pajang lalu menciumi bibir Sekar dengan gerakan lembut berulang-ulang sambil tidak lupa tangannya bergerak ke payudara Sekar yang kenyal dan lembut, payudara yang putih mulus itu dibelai-belai dan diremas dengan lembut, sesekali Pajang mempermainkan puting payudara Sekar yang berwarna pink segar dengan jari-jarinya.
Sekar langsung terhanyut oleh perlakuan itu, gerakan-gerakan Pajang yang sangat berpengalaman membuat pertahanannya sedikit demi sedikit bobol.
Perlahan Sekar mulai memberikan respon pada ciuman Pajang, tanpa disadari, Sekar mulai membuka mulutnya dan membiarkan lidah Pajang bermain-main dengan lidahnya, bahkan Sekar mulai ikut memainkan lidahnya sendiri dan membiarkan bibirnya berpagutan dengan bibir Pajang.
Sambil terus berciuman, Pajang terus membelai dan meremas-remas payudara Sekar dengan lembut. Lalu Pajang mengarahkan ciumannya ke bagian leher Sekar. Sekar menerima perlakuan itu sambil mendesah pelan.
Pajang terus menciumi sekujur leher Sekar, lalu ciumannya bergerak menelusuri bagian payudara Sekar. Dengan lidahnya, Pajang menjilat-jilat payudara mulus itu dengan lembut, ujung lidahnya sesekali menyapu puting payudara Sekar membuat Sekar makin terangsang.
Desahan nafasnya mulai memburu, wajah Sekarpun mulai memerah. Sekar seperti berada di lautan kenikmatan yang maha luas dan akhirnya seperti biasanya pula batang kemaluan Pajang yang besar mengaduk liang kenikmatannya.
Dan seperti yang didambakan Sekar, Pajang melambungkannya terbang melayang layang diawang awang menggapai puncak kenikmatan yang tertinggi. Gesekan penis di dalam vaginanya memberikan sensasi luar biasa pada sekujur tubuh Sekar membuatnya mengejang dan bergerak liar.
Sekar benar-benar menikmati persetubuhan dengan Pajang. Dia membiarkan saja saat Pajang kembali menciumi bibirnya ditengah-tengah persetubuhan.
Bahkan ketika Pajang menghentikan genjotannya, secara tidak sadar Sekar gantian menggerak-gerakkan pantatnya, dan Sekar pun menurut saja ketika Pajang menyuruhnya berganti posisi. Entah sudah berapa posisi yang dipraktekkan mereka.
Sekar sendiri sudah mengalami berkali-kali orgasme, dia mendesah-desah menyebut nama Pajang, Sementara penis Pajang terasa semakin berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya dengan geraman panjang dia menumpahkan spermanya ke dalam rahim Sekar.
Dan hari-hari berikutnya Sekar makin sering berkunjung ke tempat Pajang, kesempatan itupun kembali digunakan Pajang untuk bisa menikmati kenikmatan tubuh Sekar yang memang sangat didambakannya.
Sekar sendiri sudah begitu terlena oleh Pajang, selain oleh mantra pengasihan yang dimiliki Pajang juga merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Pajang menyetubuhinya. Kini setelah kejadian itu, mereka selalu terlihat sering berdua.
Sekar selalu datang ke kontrakan pajang sekedar untuk melepaskan unek-uneknya tentang masalah kampus namun bagi Pajang itulah saat baginya untuk menikmati kehangatan dan kemulusan tubuh Sekar.
Pajang pun akhirnya menikmati tubuh Sekar yang merupakan calon perawat itu dengan sembunyi-sembunyi, Sekarpun kini telah memutuskan hubungan dengan pacarnya dan ia menerima pajang sebagai calon suaminya.

0 comments:

Post a Comment